
86saja.com, KONAWE – Suasana penuh kekeluargaan mewarnai peringatan Milad ke-6 Tamalaki Budaya Tolaki Sulawesi Tenggara (TBTS) yang dirangkaikan dengan pelaksanaan pendidikan dasar (Diksar) XII, yang digelar di Kelurahan Tongauna, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (29/8/2026).
Usai melaksanakan potong tumpeng, dihadapan peserta Diksar, Ketua Umum TBTS, Israh Malaka, dalam sambutannya mengatakan, momentum Milad ke-6 memiliki makna yang mendalam bagi eksistensi organisasi. Menurutnya, perjalanan pengabdian selama enam tahun tidak akan memiliki arti tanpa adanya proses regenerasi yang berkelanjutan.
“Pelaksanaan Diksar XII bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi bagian penting dalam menanamkan nilai-nilai dasar organisasi sekaligus memperkokoh tali persaudaraan dan silaturahmi di antara seluruh anggota,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan bahwa bulan Agustus ini merupakan momentum untuk memperkuat semangat kebangsaan dan kemerdekaan serta proklamasi dalam diri setiap anggota.
Ditempat yang sama, Dewan Pembina TBTS, Ramadhan, berpesan agar setiap anggota menjadikan organisasi sebagai ruang untuk belajar, membangun karakter, serta mengembangkan kemampuan diri. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk berkontribusi lebih besar di tengah masyarakat.
“Jangan menganggap organisasi hanya sebagai tempat berkumpul. Kita harus belajar. Tidak menutup kemungkinan dari organisasi ini lahir pemimpin-pemimpin yang nantinya bisa menjadi kepala desa, anggota dewan ataupun bupati,” ucapnya.
Sementara itu, Mewakili Polsek Tongauna, Aipda Dirman menyampaikan pentingnya sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Menjaga kamtibmas merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, sinergi antara organisasi Tamalaki dan kepolisian harus terus dibangun melalui komunikasi dan koordinasi yang baik,” ungkapnya.
Selanjutnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) TBTS I, Burhan Tuduosu, menjelaskan bahwa organisasi Tamalaki Budaya Tolaki Sulawesi Tenggara telah terdaftar secara resmi pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sejak 2021.
Menurutnya, legalitas tersebut menjadi salah satu bentuk keseriusan organisasi dalam menjalankan kegiatan serta membangun kader yang memiliki karakter dan kepribadian yang baik.
“Di organisasi ini kami membentuk kader-kader yang memiliki etika, sopan santun dan kepribadian yang baik. Ketika seseorang bergabung dalam organisasi, harus ada perubahan karakter ke arah yang lebih baik,” jelasnya.

Burhan menekankan bahwa setiap anggota TBTS harus menjaga nama baik organisasi dengan mengedepankan etika dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya ingatkan kepada seluruh anggota, ketika sudah masuk dalam organisasi Tamalaki Budaya Tolaki Sulawesi Tenggara, harus memiliki etika. Jangan sampai keberadaan kita justru merusak nama baik organisasi,” tegasnya.
Sementara itu, Dewan Sara TBTS, Rustam Duhasa, mengimbau masyarakat agar tidak alergi terhadap organisasi, khususnya organisasi yang membawa nama tamalaki.
Menurutnya, TBTS selama ini telah menghadirkan berbagai kegiatan positif di tengah masyarakat, mulai dari kegiatan sosial, pendekatan kemasyarakatan hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan melalui musyawarah dan komunikasi.
“Jangan risih atau alergi terhadap organisasi, apalagi organisasi yang berslogankan tamalaki. TBTS sudah banyak melakukan kegiatan positif, baik dalam bidang sosial maupun kemasyarakatan,” katanya.
Ia menyebut, TBTS juga telah beberapa kali memberikan bantuan sosial, termasuk santunan kepada panti asuhan. Selain itu, organisasi tersebut turut berupaya menjadi bagian dari penyelesaian persoalan di tengah masyarakat dengan mengedepankan pendekatan kekeluargaan dan memberikan solusi.
“Organisasi ini harus terus hadir memberikan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat. Kalau ada persoalan, kita harus mampu menjadi bagian yang memberikan solusi, bukan justru menambah persoalan,” tambahnya.
Rustam juga berpesan kepada seluruh anggota agar aktivitas berorganisasi senantiasa diimbangi dengan peningkatan nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, kehidupan di dunia bersifat sementara sehingga setiap anggota perlu mempersiapkan diri dengan memperkuat keimanan dan memperbanyak amal kebaikan.
“Kita berorganisasi, tetapi jangan lupa dengan agama. Kita tidak hidup kekal di dunia. Kehidupan dunia ini hanya sementara dan kita semua akan kembali kepada kehidupan akhirat. Karena itu, jadikan organisasi sebagai wadah untuk berbuat baik, mempererat persaudaraan, sekaligus meningkatkan nilai-nilai keagamaan,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Polsek Tongauna Aipda Dirman, Kepala Desa Andeposandu Ramadhan, tokoh masyarakat Muh. Akbi Moita, BA, dan Teko, jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) TBTS, serta anggota TBTS.
Laporan : Israjab
