Panen Kelengkeng di Lalombonda, Bupati Konawe: Mari Kita Bangun Konawe dari Desa

Bupati Konawe (gunakan Topi hitam) di dampingi istri

86saja.com, KONAWE – Penuh semangat dan guyonan khasnya yang menghangatkan suasana, Bupati Konawe H. Yusran Akbar, ST, menyampaikan pidato di acara Panen Raya Kelengkeng New Cristal Desa Lalombonda, Kecamatan Amonggedo, Rabu (10/9/2025).

Turut hadir Sekda Konawe, Dr Ferdinand, sejumlah kepada OPD, Ketua Tim Penggerak PKK, Hj Hania, SPd, MPd Gr, tokoh masyarakat dan ratusan petani.

Dalam pidatonya, Bupati Konawe, Yusran Akbar, memberikan apresiasi tinggi kepada Kepala Desa Lalombonda, Budiarto, SE, yang telah berinovasi.

“Dulu dikatain tidak bakal berbuah, eh sekarang manis-manis. Ini bukti kalau petani kita punya hati, punya tekad, dan punya mimpi besar. Ini bukan sekadar panen, ini gerbang ekonomi baru untuk masyarakat,” tegas Bupati disambut tepuk tangan meriah.

Ia menjelaskan, bahwa Kelengkeng New Cristal bukan buah biasa. Di mata pasar, kelengkeng setara dengan apel.

“Ini buah elite. Kalau ke acara resmi provinsi atau kementerian, pasti ada kelengkeng. Dan menariknya, buah kelengkeng dibeli oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Ini peluang besar,” jelasnya.

Bupati juga mengungkapkan strategi besar Pemkab Konawe yaitu “Kawasan Tematik Berbasis Potensi Desa.”

“Kita tidak bisa seperti Jawa yang satu desa satu komoditas. Di Konawe, kita buat kawasan tematik: satu kecamatan, satu komoditas unggulan. Amonggedo? Ya Kelengkeng! Plus durian, dan plus sapi,” ungkap Bupati.

Ia meminta kepala desa se-Amonggedo untuk segera memberikan feedback ke dinas terkait. Soal tanaman apa yang cocok, lahan kosong berapa hektar, populasi ternak berapa ekor. Semua data itu akan jadi dasar program pemerintah.

“Jangan sampai bantuan kandang sapi diberikan ke yang bukan peternak. Jangan sampai lahan sawah baru ditolak karena masyarakat lebih suka sawit. Kita harus jujur, transparan, dan tepat sasaran” kata Bupati.

Salah satu program andalan Koperasi Desa Merah Putih. Bupati ingin koperasi desa menjadi pemasok utama untuk Program Makan Bergizi Gratis (BMG) yang akan menyasar 33 dapur di Konawe hingga Desember 2025.

Bupati menyampaikan bahwa Satu dapur butuh 4 ekor sapi per minggu. Kalau 33 dapur? Bisa 120 ekor per bulan. Bayangkan uang yang berputar di petani kita. Belum lagi kebutuhan buah, sayur, telur, ayam. Ini peluang emas.

Tantangan Air & Infrastruktur: “Kita Harus Bangun Embung!”

Bupati tak menutupi tantangan utama pertanian Amonggedo: keterbatasan irigasi.

“Bendungan tahun 80-an sulit menyuplai air ke sini. Elevasinya beda, dikisaran 25-30 meter. Jadi kita bangun embung-embung kecil. Tahun ini kita dapat bantuan normalisasi saluran irigasi — bersihkan lumpur, sedimen, rumput. Biar air bisa mengalir maksimal.”ujarnya.

Ia meminta Dinas PU, Dinas Pertanian, dan BPMD untuk segera turun tangan. Jangan tidur, harus kerja keras! Kalau perlu, rambut putih semua demi petani kita!” — candanya sambil menunjuk kepala dinas yang hadir.

Program mendesak lainnya, Peternakan Sapi: “Gemukkan 3 Bulan, Untung Rp15 Juta!”

Bupati Yusran juga mengungkap peluang besar di sektor peternakan:

“Beli sapi Rp8 juta, gemukkan 3 bulan, jual Rp11-12 juta. Untung Rp3-4 juta per ekor. Kalau beli 5 ekor? Untung Rp15-20 juta dalam 3 bulan! Ini bukan mimpi, ini nyata!”

Ia memerintahkan Dinas Peternakan untuk segera membuat program penggemukan sapi skala kecil, agar lebih banyak petani yang bisa ikut. “Jangan kasih 20 ekor ke satu orang. Kecilkan, biar merata. Dokter hewan harus turun lapangan, bantu agar sapi bisa produksi optimal setahun. Pesan khusus untuk kepala desa dan aparat: Jangan tidur, data harus akurat.

Lebih lanjut Bupati meminta seluruh kepala desa dan aparat untuk, Identifikasi potensi desa secara akurat  lahan kosong, jumlah petani, populasi ternak.

Sosialisasikan program cetak sawah, meski tren sawit tinggi, hitung untung-ruginya secara ekonomis.

Bangun sinergi dengan penyuluh dan dinas, jangan biarkan program gagal karena data salah.

“Kalau ada warga tolak cetak sawah, ya tidak apa-apa. Tapi jangan nanti minta lagi. Kita prioritaskan yang mau dulu. Dana APBN ini bukan uang saya, ini uang rakyat, untuk rakyat” ujar Bupati.

Di penghujung pidatonya, Bupati Yusran kembali menegaskan visinya.

Kata Bupati, dirinya ingin Konawe dikenal bukan hanya karena sawit, tapi karena wisata petik kelengkeng. Seperti Malang punya apel, maka Konawe punya Kelengkeng. Menurutnya, Kepala Desa Lalombonda, Budiarto sudah buktikan.

“Mari kita bangun Konawe dari desa. Karena kekuatan kita ada di bawah. Ekonomi rakyat adalah kekuatan sejati. Jangan biarkan uang BMG lari ke luar daerah. Mari kita rebut peluang ini  untuk petani, untuk anak-anak kita, untuk masa depan Konawe yang berdaulat pangan dan sejahtera,” ajaknya.

Sementara itu, dalam laporannya Camat Amonggedo, Megahwati, menjelaskan bahwa Amonggedo merupakan salah satu kecamatan strategis di Kabupaten Konawe dengan luas wilayah mencapai 12.375 hektare dan populasi penduduk sekitar 11.302 jiwa. Wilayah ini terdiri dari 14 desa dan 1 kelurahan, dihuni oleh 8 suku etnis, yaitu Tolaki, Jawa, Bali, Sunda, Lombok, Bugis, Makassar, dan Selayar. Keberagaman budaya dan agama (Islam, Hindu, dan Kristiani) tidak mengurangi rasa persatuan dalam membangun daerah yang berdaya saing, sejahtera, adil, dan berkelanjutan.

Camat Amonggedo menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat Amonggedo adalah petani. Di samping menanam padi dan kelapa sawit, warga juga aktif memanfaatkan lahan kosong dan halaman rumah untuk menanam buah-buahan seperti mangga, durian, rambutan, langsat, dan khususnya kelengkeng, yang telah menjadi simbol baru ketahanan pangan desa.

 

Laporan: Om Isra